Cerita Selembar Tablet

Image

Ketika orang-orang semakin pinter menggunakan tablet, saya masih bingung mikir asal-mulanya telepon pintar seukuran block note cap monyet duduk itu bisa disebut tablet. Setahu saya yang namanya tablet ya sebangsa bodrex atau refagan.

Gara-gara kebanyakan mikir, saya ketinggalan kereta. Baru nyadar ketika di tempat-tempat umum gak ada lagi orang yang bisa saya ajak ngobrol. Semua asyik dulat-dulit tablet. Begitu pula di rumah, anak dan istri juga sibuk nduliti tablet masing-masing.

Gak mau berlama-lama ketinggalan jaman, sayapun ikutan beli – meskipun sambil bingung, buat apa? Saya bukan pesbuk maniak, jarang terima email, gak demen internetan (apalagi nge-game). Kalau janjian gak pernah dicatat, telepon seluler yang saya pakai juga bisa buat transfer.

Tapi gak pa-pa lah, suatu saat nanti pasti nemu manfaatnya. Sama seperti ponsel two fifty yang saya beli di pasar malem beberapa bulan lalu. Waktu beli ponsel itu saya juga gak punya bayangan bakal mau diapakan, karena saya sudah punya yang lebih canggih. Disamping itu saya terpaksa sukarela beli gara-gara mbak-mbak penjualnya terus saja nyerocos sambil ngumbar senyum

Baru setelah ponsel seharga 250 ribu itu dua bulan lebih menjadi penghuni tas cangklong saya dalam kondisi mati dan tanpa SIM card, hari senin kemarin mendadak otak kreatif saya nemu ide cemerlang ………. buat nyambit pengendara motor yang mencoba melarikan diri setelah nyerempet innova saya.

Kembali ke tablet yang kalau dinyalakan dilayarnya keluar tulisan galaxy tab 2. Ada teman yang bilang, punya saya cuma mainan anak sekolah. Mestinya saya beli galaxy note, i-phone atau blek beri.

Halah, mainan anak sekolah saja gak ketahuan mau dipakai ngapain, apalagi beli yang lebih canggih. Tambah mumet.

Untungnya, semalam di pos ronda saya mendapat tutorial gratis cara memanfaatkan tablet untuk pemulung. Pagi tadi SIM card di telepon genggam langsung saya pindah.

#Setelah tablet nyala, rasanya gimana gitu.

Tapi, belum sempat mengucapkan selamat berpisah ke telepon genggam, saya sudah nemu masalah. Ketika ada rekanan nelepon, setelah ndulit icon telepon saya malah cuma bengong. Cara terima teleponnya bagaimana ya?

Akhirnya saya tempel tabletnya ke kuping. Tapi setelah beberapa kali hola halo, malah gak ada  jawaban. Ternyata gara-gara spikernya ada di bawah, jauh dari posisi kuping, makanya gak terdengar apa-apa. Terpaksa tabletnya dijungkir.

Beres?

Enggak.

Ketika saya kebetulan lewat di depan cermin, kelihatan style noraknya. Ada perangkat yang kecil mungil dan nyaman digenggam, sekarang malah pakai perangkat segede buku tulis yang digenggamnya saja ribet, belum lagi suaranya kurang jelas.

Lalu istri saya memberi saran, kalau teleponan saya disuruh pakai earphone. Gak cuma ngomong, sayapun diberi satu unit yang pakai blu-tut. Unitnya kecil, kalau sudah nyelip di kuping, ketutup rambut samping yang agak tebal, blas gak nampak lagi.

#Berasa seperti bintang pelem tembak-tembakan a la Hollywood, detektipnya pakai telepon angin yang spikernya nyelip di kuping.

Kebetulan siang ada jadwal ketemu rekanan di Amplaz. Kesempatan buat nampang. Sambil nunggu rekanan datang saya petantang-petenteng di hall – tentu saja dengan spiker blu-tut nancep di kuping. (Tapi bego juga ya? Kalau barangnya gak kelihatan, apanya yang mau dipamerin?)

Pucuk dicinta, ulampun tiba. Ada yang nelepon. Jadi saya punya kesempatan bergaya a la detektip Hollywood.

Was, wis, wus, ngomong ngalor ngidul. Tiba-tiba lawan bicara diseberang sana ndagel (melucu ). Tanpa sadar sayapun ketawa terbahak.

Tapi segera terdiam ketika anak kecil disebelah nyeletuk, “Papa, oomnya kok ketawa sendiri?”

What? Saya celingukan.

Di kiri, kanan, depan, belakang, banyak mata memandang ke arah saya dengan tatapan aneh.

WHAT A WONDERFUL DAY  /  HOME

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s